Tampilkan postingan dengan label Kisah Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Mualaf. Tampilkan semua postingan

15 Februari 2010

ILMUWAN FISIKA UKRAINA MASUK ISLAM

Demitri Bolykov, sorang ahli fisika yang sangat mengendrungi kajian serta riset-riset ilmiah, ia mengatakan bahwa pintu masuk keislamannya adalah fisika. Sungguh suatu yang sangat ilmiah , bangaimanakah fisika bisa mendorang Demitri Bolyakov masuk Islam.

Demitri mengatakan bahwa ia tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof.Nicolai Kosinikov, salah seorang pakar dalm bidang fisika. Mereka sedang dalam sebua penelitian terhadap sebuah sempel yang diuji di laboratorium untuk mempelajari sebuah teori moderen yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan porosnya. Mereka berhasil menetapkan teori tersebut. Akan tetapi Dimetri mengetahui bahwasanya diriwayatkan dalam sebuah hadis dari nabi saw yang diketahui umat Islam, bahkan termasuk inti akidah mereka yang menguatkan keharusan teori tersebut da sesuai dengan hasil yang dicapainya. Demitri meras yakin bahwa pengetahuan seperti ini, yang umurnya lebih dari 1.400 tahun yang lalu sumber satu-satunya yang mungkin hanyalah pencipta alam semesta ini.

Teori yang dikemukan oleh Prof. Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menfsirakan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sempel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan , ditempatkan pada badan are magnit yan terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus. Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”. gerak ini pad substansinya aktivitas perputaran bumi pada porosnya.

Pada tingkat realita dialam ini, daya mataghari merupakan “kekuatan penggerak yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya insensitas daya matahari. Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung.

Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40km dalam setahun, bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak.ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “Gerak”perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketiak itu matahari akan terbit (keluar ) dari Barat !!!.

Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian. Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia medapat informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huarirah bahwasanya Rasulullah saw bersabda” Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima Taubatnya.” (dari kitab Islam wa Qishshah, Muhama
d Bayumi )

SHAMRANI MASUK ISLAM DI RIYADH (artikel kiriman saudara kita Fikri Fauzi)

RIYADH – Pemuda yang dilahirkan dari ayah yang berkewarganegaraan Saudi Arabia dan ibu yang berkewarganegaraan amerika bernama Najmu Al-shamrani,telah memeluk agama Kristen kurang lebih 23 tahun setelah kedua orang tuanya bercerai, di mana ia dibesarkan di Amerika Serikat dengan ibunya.

pada awal tahun 2007 untuk mencari ayahnya,dengan bantuan dari Kedutaan Besar AS di Riyadh. Kalimat pertama Shamrani yang di ucapkan pada ayahnya setelah 23 tahun «Aku takut anda (Ayahnya) tidak mengenali saya, kemudian ayahku dengan cepat merespon kepada saya setelah air mata bercampur perasaan emosional dan kami berkomunikasi secara berkelanjutan sekarang. Semenjak usia 15 tahun Shamrani mulai mengenal agama Islam di Amerika Serikat dan menyadari tentang toleransi agama, kesetaraan dan persaudaraan di antara masyarakat, mengacu pada fakta bahwa kehadirannya di arab Saudi untuk mengetahui tentang toleransi terhadap ajaran Islam.

Shamrani mengumumkan masuk Islam secara resmi pertama di Riyadh kemarin, yang menegaskan bahwa ia akan berusaha untuk menginformasikan kepada teman-temannya serta masyarakat di Amerika Serikat mengenai Islam yang sebenarnya.

Shamrani menolak untuk mengubah nama, ia mengatakan akan tetap di arab Saudi di samping ayahnya untuk beberapa waktu dan kemudian akan kembali ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan program pendidikan pascasarjana sebelum menetap di negaranya.

Hammoud Ahmari Cendekiawan Islam mengatakan bahwa Shamrani memeluk agama Islam seperti apa yang Nabi Muhammad (saw) sabdakan : Setiap anak Adam itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) kedua orang tuanyalah yang membuatnya Nasrani, Yahudi atau Majusi (HR Bukhari). (cybersabili.com)

KISAH PRIA BELANDA MASUK ISLAM

Sebelum masuk Islam ia bernama Peter. Setelah masuk Islam namanya diganti dengan Waleed. Nama keluarganya adalah Duisters.

Ia dibesarkan di keluarga Katolik. Namun ia tidak pernah merasa betah di agama ini. Saya percaya terhadap Sesuatu Yang Mahakuasa, katakanlah Tuhan, ungkapnya. Tapi bagi dia Tuhan itu bukanlah seorang pria berjenggot putih seperti terlihat di buku-buku Kristen.

Tuhan bagi saya, tambah Peter, bukanlah patung salib yang terbuat dari batu seperti yang terlihat di gereja.

"Saya tidak merasa sama sekali bahwa ini Tuhan saya, yang harus saya sembah," jelasnya.

Tidak percaya agama
Makanya saya tidak percaya sama agama sama sekali. "Agama adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Agama itu tidak benar sama sekali," tandasnya.

Waktu berusia 19 tahun Waleed atau Peter banyak teman sekelas dengan orang Islam. Dan mereka sering berbicara soal agama mereka. "Dari satu segi saya tertarik juga dengan pembicaraan itu," katanya.

Suatu ketika kelasnya membahas soal agama. Banyak siswa yang mengatakan bahwa mereka percaya kepada sesuatu. Lalu ada seorang cewek Maroko dengan yakin mengatakan: "Saya percaya pada Allah." Pria Katolik ini terkesan dengan cara perempuan ini mengungkapkan hal tersebut.

Dari wajahnya tampak sekali bahwa perempuan Maroko ini benar-benar yakin akan kebenaran agamanya. Peter ingin tahu kenapa perempuan ini begitu yakin.

Saat itu Peter masih berpendapat, Islam agama tidak masuk akal. Ia pun mencoba menjelaskan kepada teman-teman muslimnya tentang ketidakbenaran Islam, berdasarkan pengalamannya dengan agama sendiri, yaitu Katolik.

"Agama saya, Katolik, tidak benar. Makanya agama kalian juga tidak benar," katanya ketika itu kepada teman-teman Islamnya.

Menghadiri pengajian
Karena begitu bersemangat ingin membuktikan kesalahan Islam, ia pun menghadiri sebuah pengajian yang membahas mukjizat dalam Al Quran. Bagi Peter pertemuan itu tak lebih dari semacam dagelan.

Pada suatu ketika ia ditugasi bersama seorang perempuan Maroko lain untuk menggeluti sebuah proyek mata pelajaran kemasyarakatan. Setelah berdiskusi panjang untuk memilih topik, akhirnya ia menyampaikan usul kepada temannya perempuan Maroko tadi: "Kenapa kita tidak pilih Islam sebagai topik?"

Serta merta temannya tidak percaya apakah usul Peter serius. Waleed, yang saat itu masih bernama Peter, memang ingin lebih banyak tahu tentang Islam supaya bisa berdebat dengan orang Islam. Akhirnya mereka setuju untuk memilih Islam sebagai topik.

"Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk membawa Al Quran ke rumah untuk dibaca. Mula-mula kesan saya Al Quran buku yang aneh," tandas Waleed.

Memperdalam Islam
Tapi lama kelamaan Peter menemukan bahwa Al Quran banyak membahas ketuhanan agama Katolik. Dari satu segi, ia tidak percaya kebenaran Al Quran, tapi di segi lain ia mulai bertanya-tanya mungkin Islam agama yang benar.

Ia pun tambah giat memperdalam Islam. Dan akhirnya ia terpaksa mengaku bahwa ia mulai percaya pada Islam. Dan ujungnya ia pun menerima Islam sebagai agamanya. Dan sekarang nama lengkapnya adalah Waleed Duisters.

http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/kisah-pria-belanda-masuk-islam?quicktabs_1=2

JORDIE ROSENBAUM, PUTRI YAHUDI MASUK ISLAM DI AS

Katherine adalah seorang Amerika keturunan Spanyol, ayahnya seorang pengusaha dan aktivis Yahudi. Begitu pula mamanya. Tapi ia lebih memilih Islam.

Siang itu the Islamic Cultural Center of New York agak sepi. Beberapa jamaah shalat zuhur sudah berdatangan, tapi adzan sendiri belum dikumandangkan. Saya masih menanda tangani beberapa berkas perkawinan untuk dikirimkan ke City Hall untuk mendapatkan “marriage certificate” bagi pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan di Islamic Center.

Tiba-tiba telpon saya berdering dan di seberang sana ada suara resesiionis menyampaikan bahwa ada seorang wanita yang ingin ketemu dengan saya. “Who is she?”, Tanya saya. “Probably she wants to know about Islam,” jawabnya singkat.

“Let her sit in the conference room,” pintaku.

Saya kemudian segera menyelesaikan menandatangani berkas-berkas perkawinan itu, lalu menuju ruang rapat. Di sana sudah menunggu seorang gadis yang masih relative muda berambut pirang. Nampak seperti asli Eropa. Dengan ramah, saya mengucapkan “selamat siang!”. “Morning sir!”, jawabnya singkat. Rupanya memang belum siang karena jam masih menujukkan pukul 11:53 pagi.

“How are, and what I can do for you?”, Tanya saya memulai percakapan siang itu.

“Hi, I am sorry that I am coming without an appointment?”, katanya singkat.

“Oh no, not at all! You don’t need to take an appointment to come to our mosque,” jawab saya.

Dia kemudian seperti menarik napas, memperkenalkan dirirnya “my name is Jordie!”. Dia kemudian bercerita panjang. Dia mulai mengatakan bahwa orang tuanya adalah petinggi agama Yahudi di kota New York . “My father is a businessman, and a board member of many Jewish congregation institutions or synagogues” , katanya terus terang.


Sejak tragedi 9/11 banyak masyarakat AS memeluk Islam termasuk wanita yahudi

Ibunya sendiri adalah seorang philanthropist, dan menurutnya menjadi kontributor besar pada acara-acara pengumpulan dana komunitas Yahudi. Juga anggota pada berbagai organisasi sosial dan wanita di kota New York .

“And so, what makes coming here today?”, pancingku.

Sekali lagi, dia bercerita panjang. Saya menangkap darinya bahwa dia adalah seorang gadis “brilliant” dan pemberani. “I am a graduate student at the NYU”, and also a Jewish activist”, katanya.

Dia menceritakan bagaimana kegiatannya di kampus, termasuk kegiatan-kegiatannya dengan kelompok agama lain, termasuk dengan pelajar Muslim. Salah satu yang selalu dia ingat adalah ketika kelompok mahasiswa Yahudi dan Muslim melakukan kerjasama bakti sosial di New Orleans setelah terjadi musibah badai Katherina ketika itu. “I really enjoyed the accompany of my Muslim friends at that time”, jelasnya.

“Are U still connected with your Muslim friends?” tanyaku.

“Yes, in fact I learned a lot from them about Islam”, jawabnya.

“And so, who direct you to come to the Center?” tanyaku lagi.

Dia kemudian menjelaskan bahwa salah seorang teman kelasnya, sama-sama mengambil sosiology, bernama Katherine. Saya bercanda, asal bukan Katherine temannya “hurricane?” (badai).

Ternyata Katherine adalah seorang Amerika keturunan Spanyol, masih non-Muslim dan saat ini belajar di Islamic Forum for non Muslims. Setelah mereka berdua terlibat perbincangan tentang Islam, dan keduanya banyak merasakan nilai positif dari agama ini, Katherine menganjurkan kepadanya untuk menemui engkau. “She is a big fan of you”, candanya.

“Oh no! I am just a regular guy, employed by this Center”, kata saya.

Saya kemudian menanyakan beberapa hal tentang agamanya, Yahudi. Setiap kali menyebutkan konsep-konsep ketuhanan, saya menimpali dengan ayat-ayat Al Quran. “Really? That's amazing!”, serunya.

Dia belum pernah membayangkan betapa Islam dan Yahudi hampir mirip dalam konsep ketuhanan. Sehingga setiap kali ada poin yang dikemukakan mengenai Tuhan, saya cuma membacakan ayat-ayat dari Al-Quran.

Saya katakan, Al-Quran itu salah satunya berfungsi sebagai “musoddiqan” (untuk menegaskan kitab-kitab suci sebelumnya.

Setelah berputar-putar dengan berbagai konsep ketuhanan, kami kemudian mendikusikan hubungan Ibrahim dengan kedua anaknya. Dalam benak dia, memang Ishak itu memiliki status sebagai Nabi, tapi Ismail tidak diangkat sebagai Nabi Tuhan. Diskusi cukup inten dan hangat, bahkan sesekali terlibat perdebatan yang dalam.

Alhamdulillah, pada akhirnya setelah kita sama-sama merujuk ke Kitab Suci tentang para Nabi, dia mengakui bahwa memang ada sikap “prejudice” (curiga) dan diskriminatif dalam ajaran Yahudi. Bahwa yang mulia dalam konsep Yahudi hanya satu kelompok manusia yang digelari “Israelis” (Israelites). Manusia lain tidak terhormat, dan seharusnya menjadi hamba-hamba Israel .

Tanpa terasa adzan zuhur dikumandangkan. Kami berhenti sejenak. Tapi tiba-tiba Jordie nampak tersenyum dan mengatakan, “Jujur saja, Islam adalah yang benar!”, akunya.

“Saya sudah aktif di sinagog semenjak masih kecil, tetapi saya tidak pernah melihat satupun orang berkulit non-putih datang ke sinagog, jelasnya".

“If Judaism is really God’s religion, why it has to discriminate people on the basis of races?”, tanyanya.

Tanpa terasa, Jordie mempertanyakan berbagai hal mengenai agamnya.

“Jordie, how do you see the Prophets of God?” tanyaku.

“They must be the best people to receive and convey the revelation. Not only to convey, but they themselves lived by the revelation”, jelasnya.

Saya kemudian menjelaskan berbagai tuduhan Taurah terhadap Nabi-nabi Allah, termasuk Daud, Sulaeman, dll. Saya katakana, dalam Al-Quran tidak satupun Nabi dikisahkan dengan kisah-kisah yang menyakitkan. Justeru para nabi itu adalah orang-orang yang berjuang untuk meluruskan prilaku manusia. “Is it rational that the Prophet David slept with his neighbor’s wife, and plotted to kill him?”, tanyaku.

“Of course, not”, jawabnya.

“But Sister, it is there in Torah!”, jelasku.

Sejenak, nampak Jordie diam, memandang ke saya seperti terheran-heran.

“So, what do you think?”, tanyaku.

“Wow, I read those, but never realized that it’s so bad!” akunya.

Saya kemudian menjelaskan bahwa memang terkadang kita membaca Kitab Suci kita dan “we take it for granted”. Seolah semua sudah diterima begitu saja, dan tidak ada lagi keinginan untuk menyelami dan memahaminya. Selain karena sudah diterima sebagai “keyakinan” dan sudah menjadi “dogma”, juga karena keberagamaan kita bersifat turunan.

Jordie terdiam. Tiba-tiba saja dia angkat kepala dan tersenyum “Wow, I really did not realized that I have been trapped in that” (ikut membuta).

“So what do you think about Islam?” saya memancing kembali.

Dengan sedikit pelan dia mengatakan “I think this is the true religion”. Kali ini sepertinya dia tidak seagresif sebelumnya.

“Jordie, can I ask you something?” tanyaku.

“We are in the winter. You know what kind of cloth we need. If you have only on you, and in front of you a thick jacket, will you stay frozen or will you take the jacket to cover your self?”, tanyaku.

“Of course I must take the jacket”, jawabnya singkat.

“I know you have your religion. But your religion does not fit to save you, Jordie. Here Islam, the religion you believe as the true religion is to save you. Would you like to take it?”, tanyaku.

Dengan sedikit pelan, nampak agak ragu, tapi kemudian dengan tegas mengatakan “yes”.

Alhamdulillah! Tanpa saya sadari saya ucapkan itu. Rupanya Jordie juga sudah tahu betul tradisi itu.

Saya meminta agar Jordie berwudhu. Ditemani oleh seorang jamaah wanita Jordie mengambil wudhu, dan sebelum shalat dimulai (iqamah), Jordie yang nama akhirnya “Rosenbaum” itu saya bimbing mengikrarkan: “Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah.”

Pekik takbir para jamaah dilanjutkan dengan iqamah, dan Jordie pun memulai shalatnya yang pertama kali. Allahu Akbar!

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com
http://newyorkermen.multiply.com/journal/item/225